Total Tayangan Halaman

Kamis, 09 Februari 2017

NHW #3 - MEMBANGUN PERADABAN DARI RUMAH_KARLINA EKASARI

Bismillahirrohmanirrohim,

Hallo, Assalamualaykum warrohmatullohi wabarokatuh...

"Membangun peradaban dari rumah"
Masya Allah, tema NHW Institut Ibu Professional kali ini menarik sekali sekaligus deg deg syeer ngerjainnya. Tapi ya harus dihadapi kan :)

Tugas pertama adalah buat surat cinta ke suami. Jreng jreeeng jreeeng ( BELOM PERNAH HAHAHAHAHA ). Maklumlah perkenalan saya dan suami itu seperti ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus. Diperkenalkan April, dilamar Juni dan menikah Oktober di tahun yang sama yaitu 2014.

Biasanya kalau ada tugas dari IIP memberitahu juga suami soalnya tapi karena tugas ini mau bikin suprise jadilah gak ngasih tau hihihi. Sampai disuatu malam saya bikin surat cinta itu. Dan ternyata gak mudah loh, karena ngerobekin kertas berkali kali ( ampun Gusti ). Lalu setelah surat itu dibuat trs dimasukkan ke dalam amplop kondangan ( GAK ROMANTIS BLASS ). Trs baru kasih tau kalau saya ada tugas bikin surat cinta sambil kasihkan suratnya. Bukannya langsung dibaca ealah pak suami malah bawa ke kantor ( Gatot ini mah judulnya ). Kira-kira sudah 1 jam setelah keberangkatannya ke kantor, iseng tanya 'Mas sudah baca surat cinta?". Dan jawabannya "Makasih ya, emot orang jatuh cinta". Jadi malu hihihi...

Tugas kedua mengenai potensi anak.
Hanif, anak saya saat menuliskan blog ini baru satu. Umurnya saat ini 18bulan. Sebenarnya ibunya belum bisa terlalu melihat dengan jelas potensi Hanif ya walaupun ada beberapa kebiasaan yang mungkin saja itu salah satu potensinya.

Hanif bisa dibilang anak yang cukup pendiam dan ramah. Ini bisa terlihat dari bayi Hanif jarang sekali menangis menjerit jerit seperti anak yang seumuran lainnya. Bila saya pergi membawa dia, hampir jarang menangis kecuali lapar, haus, dan tidak nyaman. 

Hanif juga terbilang anak yang pandai bergaul. Terlihat ketika dia berada di lingkungan yang baru, sangat amat pandai menyesuaikan diri. Ia selalu memperkenalkan diri, tidak takut dengan temannya apalagi jika ia anggap orang tersebut temannya. 
Dalam hal bermain, Hanif jarang sekali bermain sendirian. Dia lebih senang bermain diluar bersama teman dibandingkan mobil-mobilan dirumah ( kecuali hujan ).Ya walaupun pada akhirnya akan berebutan mainan juga sih, hihihi.

Hanif anak yang sangat inisiatif sekali. Sebagai contoh, jika dia ingin makan ia pasti menunjuk ke arah piring sambil bilang 'emam mam'. Atau dia sering terlihat menggeret kasur palembang kecil untuk ia bawa ke ruang keluarga jika ingin tidur-tiduran disana.

Hanif anak yang ekspresif. Ia tidak segan menunjukkan rasa suka atau tidak suka terhadap suatu barang atau perasaannya. Jika ia merasa senang, ia akan menunjukkan rasa gembira di wajahnya begitupun sebaliknya.

Rasa empati yang dimiliki Hanif pun lumayan baik. Ia jarang menyakiti orang lain tanpa sebab, dan jika pun ia menyakiti orang lain pasti akan menangis bahkan segera memeluk orang tersebut.

Apa ini potensi mu nak?

Apapun itu, ibu In syaa Allah akan mendukung penuh selama kamu berada di jalan yang lurus. Seperti namamu ' Hanif Abdurrahman Dzulqarnain ' ( Hamba Allah yang penuh kasih sayang lurus di jalan NYA seperti raja Dzulqarnain yang kerajaannya membentang dari barat hingga timur ). Allahumma aamiin :')

Tentang potensi diri sendiri.
Ini sebenarnya pertanyaan paling susah, karena penilaian diri sendiri khawatir berlebihan. Tapi baiklah coba diteliti.

Saya itu orang yang sangat bersemangat tapi mudah bosanan. Ini perpaduan antara potensi serta kelemahan.
Saya juga mudah memaafkan kesalahan orang lain, suka bergaul, dan melakukan hal hal yang membuat orang lain tertawa.

Lebih sering mempergunakan otak kanan dibanding otak kiri. Lebih senang memasarkan produk dibanding harus menghitung laporan keuangan. Lebih senang mengobrol dengan orang lain dibanding mengerjakan matematika.

Suka dengan ide-ide baru. Senang mempengaruhi orang lain dan senang dengan yang berbau kreatifitas.

QadarulLah, sekarang sudah menjadi wanita yang paling sempurna dengan menjadi isteri dan ibu. Oleh karenanya, semoga potensi diri bisa dipergunakan semaksimal mungkin untuk menjadi hamba yang bertakwa serta isteri pembelajar dan ibu professional.

Tentang lingkungan.
QadarulLah, menjelang usia 2 tahun pernikahan, saya dan suami memutuskan untuk hijrah ke sebuah kota yang bisa dibilang lumayan religius. Ah, mungkin ini maksud Allah terhadap keluarga kecil kami. Tinggal di lingkungan yang berbeda dengan lingkungan yang sebelumnya.

Sebelumnya, kami tinggal di sebuah gang dipinggiran kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kami menumpang dirumah orangtua saya. Tinggal disebuah lingkungan yang belum teredukasi dengan baik pendidikannya membuat rasa khawatir kami sebagai orangtua muncul. Bagaimana tidak, hampir selalu kami mendengar anak kecil berbicara yang tak layak setiap hari. Ya tidak bisa dipungkiri mungkin mereka mencontoh dari orang dewasa karena anak kecil itu peniru yang ulung. Belum lagi dengan maraknya perzinahan dilingkungan tersebut, AstaghfirulLah :(

Tinggal di Depok, membuat kami jauh lebih tenang. Saya pun jauh lebih bisa mengatur kegiatan keluarga yang lebih baik. Walaupun tempat tinggal kami penuh dengan keragaman suku, agama, dan budaya tapi tetap rukun dan damai.

Dan saya pun menangkap pesan ya Allah sampaikan dengan cara belajar dengan lebih mendekatkan kepadaNYA serta fokus terhadap keluarga.

In syaa Allah dengan semuanya ini, diri ini bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya. Allahumma aamiin



Image result for al ummu madrasatul ula


NHW #1 ADAB SEBELUM ILMU



Bismillahirrohmanirrohim,

(«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا صَالِحًا»
Ya Allah, Aku memohon kepadamu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal shalih yang diterima” (HR Ahmad)

NICE HOMEWORK INSTITUT IBU PROFESSIONAL
(Selasa, 24 Januari 2017)


1.    Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini?

Dari sekian ilmu yang banyak dan beraneka ragam, serta dengan keterbatasan saya sebagai seorang manusia maka saat ini saya memutuskan untuk terfokus serius mendalami Ilmu Parenting secara Islami atau yang lebih dikenal sebagai “Parenting Nabawiyah”. Saya berharap dengan kesungguhan menekuni ilmu dibidang ini, Allah memudahkan jalan untuk hambanya yang masih fakir ilmu ini.

2.    Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?
Ketertarikan pada agama Islam secara penuh muncul ketika saya memutuskan Lillahita’ala berhijrah. Mengikuti sesuai perintah Allah dengan berdasarkan petunjuk Rasulullah.

Terlebih ghirah ini membuncah ketika Allah yang Maha Pemurah memberikan amanah kepada saya menjadi seorang ibu. Amanah yang luar biasa besar, yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Oleh karenanya, amanah ini tidak akan pernah saya sia-siakan dan akan menjadi ‘karier’ terhebat bagi diri saya.

Buat saya pribadi, menjadi seorang ibu bukanlah hanya sekedar melahirkan dan mengubah status didalam KTP atau KK. Lebih dari itu peran ibu sesungguhnya. Menjadi seorang ibu berarti siap menjadikan dirinya penuh untuk berdedikasi kepada keluarga. Menjadi seorang ibu berarti siap menjadi pilar peradaban generasi. Menjadi seorang ibu berarti siap menjadikan dirinya sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak “Al ummu madrasatul u’laa”.

Karena beratnya tanggung jawab serta konsekuensi yang ditanggung seorang perempuan yang ingin menjadi seorang ibu, maka memerlukan ilmu yang mumpuni. Karena dengan ilmu lah, seorang hamba bisa membedakan kebaikan atau keburukan serta petunjuk dari kesesatan.

Diri ini menyadari betul, agar kelak saya bisa menjadi sebenar benarnya ibu maka dari itu saya bertekad kuat untuk mendalami ilmu parenting nabawiyah tersebut.


3.    Bagaimanakah strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan dibidang tersebut?

Seorang penuntut ilmu tentunya harus mulai mencari “GURU” tempat dimana ia akan menimba ilmu tersebut.

QadarulLah, takdir pertama saya ketika muncul keinginan untuk mempelajari ilmu parenting nabawiyah adalah bertemu dengan ibu Septi Peni pada sebuah seminar tempat saya mengaji. Dan selanjutnya, strategi strategi menuntut ilmu parenting terus saya lakukan dengan cara sebagai berikut :
·      Rajin mengikuti seminar yang berkaitan dengan ilmu tersebut baik secara online maupun offline
·      Bergabung dengan komunitas atau grup-grup yang sepemahan dan sepemikiran yang akan memperkuat tekad serta semangat dalam menuntut ilmu tersebut
·      Bergaul dan berteman dengan orang-orang shalih/shalihah serta orang-orang yang berilmu.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
·      Membeli dan membaca buku yang akan menjadi sumber ilmu.

4.    Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam mencari ilmu tersebut?

Seperti gelas kosong yang siap menerima air, seperti itulah saya memposisikan diri saya. Sambil terus berupaya membersihkan diri dari berbagai penyakit hati yang menghinggapi diri ini. Selain hal tersebut, tentunya yang tidak kalah penting bahkan teramat penting adalah berupaya terus memperbaiki diri dengan Allah, Tuhan Pencipta Alam Semesta ini. Karena saya percaya, jika hubungan dengan Allah sudah baik maka hubungan dengan manusiapun akan baik.

Saya juga berusaha untuk merapikan file-file dokumentasi baik ilmu yang didapatkan melalui offline ataupun online.

Saya juga akan terus berusaha menjaga silaturahim dengan para guru yang telah memberikan begitu banyak ilmu. Serta terus mendoakan yang terbaik untuk para guru.

Dan terakhir, saya berusaha merapikan kembali buku-buku yang akan saya pelajari sehingga proses belajar akan lebih mudah.


Sekian jawaban dari seorang manusia yang terus akan belajar dalam kehidupannya.

Rabu, 25 Januari 2017.

( KARLINA EKASARI )

Rabu, 01 Februari 2017

NHW #2 - CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN


 Entah mengapa setiap dapat tugas dari fasilitator Institut Ibu Professional terasa deg-degan. Seperti kembali mengulang masa sekolah. Tapi bismillah, ini ikhtiar untuk terus menjadi isteri serta ibu pembelajar.

Tulisan ini melompat postingan karena kemarin-kemarin sempat error blognya. Alhamdulillah sekarang sudah bisa kembali aktif. In syaa Allah, postingan yang sebelumnya yaitu materi NHW #1 tentang "Adab Menuntut Ilmu" akan diposting setelah materi ini ya. Dan postingan selanjutnya tentang materi-materi NHW akan diposting di blog. Agar memudahkan oranglain yang ingin sama-sama belajar.

Baiklah, kita mulai ya.
Sebelumnya fasilitator mengirimkan sebuah video ibu Septi berdurasi kurang lebih 30 menit. Setelah mendengar video itu berulang-ulang diwaktu anak tidur, ya Allah gusti rasanya jleb pisan. Nangis berkali-kali, teringat masih banyak lalainya diri ini. Tapi tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Doakan terus ya ibumu ini. Untuk rangkuman videonya, diposting di postingan selanjutnya ya.

CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN
A. SEBAGAI INDIVIDU
B. SEBAGAI ISTERI
C. SEBAGAI IBU

Jujur hampir saya tidak pernah melakukan checklist semacam ini. Dan bersyukur ada di komunitas baik ini, jadi tahu bahwa memang seharusnya kita membuat checklist agar pekerjaan kita terukur dan terarah.

Saya membagi dalam tiga waktu yaitu harian, mingguan serta bulanan. Dan agar lebih jelas dan detail, maka saya membuat bagan beserta evaluasi nya. Evaluasi dilakukan berdasarkan apa yang sudah dilakukan atau belum.


 


Semoga indikator checklist ini bisa bermanfaat untuk saya beserta dan para pembaca sekalian.
Terimakasih sudah mengunjungi dan membaca blog saya. Mohon maaf jika banyak kekurangan disana sini.

Salam,

KARLINA EKASARI
(Seorang ibu pembelajar)

Senin, 14 September 2015

Cerita Kehamilan Bagian ke 3 hingga proses melahirkan

Ini ceritanya ngebut cerita, karena tulisan ini dibuat bersamaan dengan tulisan sebelumnya.

Pada usia kandungan ini, sudah mulai diisi dengan kesibukan senam hamil, terapi hypnobirthing, sampai baca baca tentang melahirkan dan mengurus bayi. 

~ Senam Hamil ~

Senam hamil pertama dilakukan di usia kandungan 7 bulan. Pertama kali senam bawaannya ribet banget, segala bawa handuk, baju ganti, jilbab ganti dan perlengkapan mandi. Dan ternyata semuanya itu gak dipake sama sekali hahahahaha. Senam hamil sebenarnya gerakannya sederhana banget dan bahkan banyak bertebaran di youtube. Tapi kalau ikut senam hamil langsung dengan instruktur itu sensasinya beda. Selain banyak info yang diberikan bidan instruktur, kitapun bisa curcol dengan ibu ibu yang lain. Dan yang pasti mental melahirkan normal itu terbentuk dengan kuat pada saat senam hamil. Karena rerata, ibu yang ikut senam hamil biasanya akan berjuang keras untuk melahirkan normal. Bidan instrukturpun sangat pro normal sekali. Jadi tambah semangat untuk melahirkan normal, biidznilLah.

~ Ikutan terapi hypnobirthing ~

Ikutan terapi ini karena membayangkan proses normal itu pasti sakit banget makanya banyak baca buku tentang hypnobirthing. Yang mana terapi ini membuat mindset kita berubah sehingga nantinya proses melahirkan normal dengan penuh menyenangkan. Seru banget ikutan ini karena kita emang jauh lebih tenang dalam menghadapi persalinan. Oh iya, kalau aku sempat beli bukunya yang dapat cd. Harganya murah kok cuma 35ribu saja. Tapi entah kenapa setiap kali mendengarkan cd tersebut selalu ketiduran, hahahha. Dasar emang doyan tidur. Dan doyan tidurpun berlanjut hingga proses melahirkan.

~ PROSES MELAHIRKAN ~

Mengenang hampir dua bulan lalu. Ya, tanggal 15 Juli 2015 malam jam 11 sudah mengalami kontraksi yang dirasa mulai teratur. Walau sepanjang semester ketiga ini, aku banyak mengalami kontraksi palsu bahkan pas senam hamil yang terakhirpun mengalami kontraksi palsu. Jam 11 malam sudah sakit tapi tetap dibawa santai dan tidur. Kontraksi tapi sempat tidur hihihi. Sampai jam 3 pagi kontraksinya tidak hilang malah makin menjadi jadi. Bilang sama suami kalau begini terus harus ke rumah sakit karena takut terjadi apa apa. Akhirnya suamipun sahur sendirian karena aku sedang merintih menahan sakit dikamar. Sehabis shubuh, kami berdua berangkat ke rumah sakit menggunakan taksi. Agak lama mencari taksi jam segitu karena biasanya pool taksi baru beroperasi jam 6 pagi. Qadarullah, akhirnya taksipun datang. Dengan segera aku dibawa menuju rumah sakit tempat biasa kami periksa. Sepanjang perjalanan, aku berusaha untuk tidak meringis kesakitan untuk menghindari kepanikan. Jamsetengah 6 kami tiba di rs. Suami mengurus administrasinya dan aku dibawa ke ruang bersalin. 

Sampai di rs bersalin, aku diperiksa tensi dan denyut jantung bayi. Ternyata denyut jantung bayinya lemah karena dede bayi tidur di rahim ibu. Lalu bidan mengambil bel sekolah dan diletakkan ke perut untuk membangunkannya. Bidan menyuruhku untuk memanggil namanya agar bangun. "Bu namanya siapa? Coba dipanggil yah anaknya" kata bu bidan. Dalam hatiku 'Hah, ini kan belum lahir kok udh dikasih nama sih". Tapi aku tetap memanggil anakku dengan sebutan de bayi "De bayi, ayok bangun. Bantu ibu melahirkan". Suamiku datang membawa buku doa yang diberi oleh rumah sakit. Sempat aku baca doa Maryam saat proses melahirkan dan doa nabi Yunus Allaihi'Salam sewaktu di dalam perut ikan paus. Bidan kembali datang utk mengecek pembukaan dan ternyata sudah pembukaan 3.

Selang satu jam kemudian, bidan membawa aku ke tempat yang berbeda. Kali ini ruangan bersalin yang lebih nyaman karena ada tv,kulkas, dan ruang tamu nya. Bidan memperingatkanku untuk tidak mengedan sebelum pembukaan lengkap dan tidak ke kamar mandi. Di dalam rs bersalin tersebut aku masih sempat membalas pesan via whatsapp temanku Yatni hihihi padahal pada saat itu sudah pembukaan 5 loh. Sakitnya kontraksi melahirkan itu SAKIT BANGET (harus capslock) terutama bagiku yang jarang merasakan sakit datang bulan. Tapi suamiku dengan sabar dan perhatian terus menyemangatiku untuk terus tersenyum walaupun sakit. Setiap kesakitan, aku selalu memegang tangan suamiku. Menggenggamnya dengan kuat tapi tidak sampai mencakar. Suamikupun sempat menyuapiku dengan makanan. Ditengah kesakitan, aku mencoba untuk tetap makan karena aku tau nantinya diperlukan saat proses mengedan.

Jam 9 pagi, pembukaan sudah lengkap dan aku bersiap melakukan proses melahirkan. Dokter Riris, dokter yang biasa menanganiku setiap kontrolpun sudah tiba. Alat-alat rumah sakit didekatkan. Lampu ditembakkan. Selang nafas sudah terpasang. Suamikupun yang habis sholat dhuha langsung mendampingi. Bidan bidan menyemangatiku tiada henti. Mengedan sebanyak 5 kali tepat pukul 10.10 WIB tanggal 16 Juli 2015 aku melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Hanif Abdurrahman Dzulqarnain. Lega dan bahagia sekali rasanya. Sakitnya kontraksi dan berjuangnya dalam proses mengedan terbayar LUNAS.

HANIF ABDURRAHMAN DZULQARNAIN,
LAHIR : 16 Juli 2015
PUKUL : 10.10 WIB
BB : 3,2 kg
PB :48 cm

Mengucap syukur tiada henti kepada Allah atas karunia diakhir Ramadhan. Dan langsung haru begitu dengar takbir sudah ada Hanif, Masya Allah.

Fabiayyi 'alaairobbika tukadzibban.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan.


Yaa Robb, Yaa Allah jadikan Hanif anak yang selalu mentauhidkanMU, mengikuti ajaran RasulMU, anak yang shalih, suami yang shalih, bapak yang shalih serta bermanfaat bagi oranglain, umat, agama, bangsa dan negara. Aamiin












Cerita kehamilan bagian ke 2

Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh...

Apa kabar semuanya??????

Mengejar target menulis nih hihihi kayak kerja di majalah aja yak :D

~ Badai Pasti Berlalu ~

Akhirnya badai itu berlalu, semester pertama kehamilan yang penuh dengan derita dan nestapa (lebay) berlalu juga. Saat nya menikmati pelangi setelah hujan es berkepanjangan. Semester ke dua tepatnya di usia kandungan ke lima akhirnya nafsu makan kembali datang. Bahkan memuncak dengan drastis. Bayangkan pada bulan ke lima berat badan langsung melonjak delapan kilo. DELAPAN  KILO (sengaja di capslock hahahaha), langsung bergumam dalam hati "Oh seperti ini toh reaksi pere kalau berat badannya naik drastis" (maklum gak pernah mengalami sebelumnya). Berat badanku kurus bangeeeet. Sebelum nikah berat badan cuma berkisar diantara 42- 45 kg. Malah sempat turun 3 kg (baca cerita sebelumnya yak hihihi) terus naik jadi 52kg itu BAHAGIA rasanya (perlu di capslock lagi) hihihi.

~ Bahagia Selalu ~

Jika bisa diulang rasanya pengen lagi mengalai semester dua kehamilan dimana kebahagian bertubi-tubi berdatangan.
Pertama, nafsu makan sudah kembali membuncah.
Kedua, berat badan naik terus.
Ketiga, dede bayi sudah ditiupkan roh nya.
Keempat, dede bayi sudah mulai bisa memndang, bersendawa, dan mengelitiki perut ibu.
Kelima, mulai belanja perlengkapan bayi, yeay...

~ Tendangan Bayi ~

Memasuki usia kandungan bulan ke enam, pertama kali nya ditendang oleh de bayi. Jagoannya ibu sudah mulai aktif di dalam perut. Bahkan sering kali dia menari di dalam perut ibu. Dan bersendawa. Bahagia betul menjadi ibu, yang mana Allah amanahkan makhluk hidup berdiam di dalam rahimnya. Mulai browsing tentang segala sesuatu hal tentang gerakan bayi di mbah google. Tentang berapa kali dia bergerak dan harus dipancing bergerak. Pernah kepikiran suatu waktu de bayi tidak bergerak karena ibu pergi ke majelis taklim aa gym di pasaraya dan pulangnya naik metromini ugal ugalan. Terus langsung ngerasa bersalah sampai bilang "De, maafin ibu ya nak. Hayo dong nendang ibu lagi" sambil sms suami. Alhamdulillah punya suami yang selalu menenangkan hati dan kepanikan isterinya, sampai malam hari akhirnya dia menendang lagi perut ibu. Alhamdulillah bahagia lagi ^^

~ Belanja Perlengkapan Bayi ~

Ini moment paling seru, karena hampir setiap bulan pada semester kedua menyicil membeli perlengkapan bayi. Banyak yang bilang 'pamali' kalau belum tujuh bulan tapi takdir Allah yang nentuin jadi pasrahin aja ke Allah, toh niatnya cuma mau menyicil perlengkapan bayi supaya tidak kerasa berat banget. Tapi memang sih diem diem belinya, habis kalau ketahuan bisa diceramahin ini dan itu. Oh iya, sebelum belanja baju bayi biasanya aku selalu mencatat apa saja yang dibutuhkan. Maklum karena anakku ini nanti cucu pertama makanya gak ada lungsuran sana sini. Lagian kata suami kalau bisa beli ya beli aja daripada ngemis minta minta. Aku juga terbantu banget sama ibu ibu yang suka nulis di blog tentang persiapan perlengkapan baju bayi, terima kasih ibu ibu blogger. Harusnya sih moment ini punya halaman sendiri yah biar bisa lebih puas ceritanya hihihi... Yang pasti tempat paling seru bukan lagi mall besar yang gak ada baju bayi nya tapi Mae Bebe (ibu-ibu seputaran bintaro dan sekitarnya pasti udh tau tempat ini.

~ USG 4 Dimensi ~

Ini permintaan khusus ibu. Sebagai ibu baru lagi senang senangnya dengan kehamilan pertamanya. Makanya bujuk suami untuk lakuin USG 4 Dimensi. Alhamdulillah suamipun menyetujuinya. Mulailah cari info info tentang USG 4 Dimensi. Kegunaan dan terutama biayanya (maklum yang ini gak dapet rembesan kantor hihihi). Setelah browsing, telpon, dan tanya sana sini akhirnya memutuskan untuk USG 4 Dimensi di rumah sakit yang biasa periksa yaitu Rumah Sakit Muhamadiyah Taman Puring. USG 4 Dimensi dengan dr. Harjo,SPOG Fetomaternal. Rekomendasi dari bidan yang biasa ada disana, katanya untuk USG 4 Dimensi lebih baik dengan dr Harjo karena beliau spesialisnya. Diskusi dengan suami karena dr ini laki-laki satu satunya yang menguasai bidang tersebut. Dengan prinsip 'darurat', suamipun menyetujui untuk diperiksa oleh dr Harjo. Sempat takjub dan bergumam 'Subhanallah anakku, ibu sudah tidak sabar ingin memelukmu nak'. USG 4 Dimensi membuat USG jadi lebih hidup karena bayi yang diperut terlihat lebih jelas. Ah senangnyaaaaa.


Kira-kira secara keseluruhan seperti itulah cerita kehamilanku di semester kedua. Menyenangkan dan menggembirakan.

Ibu mencintaimu karena Allah,
Sepenuh cinta untukmu
Ibu

Senin, 15 Juni 2015

Cerita kehamilan bag 1

Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh

November 2014 - Juni 2015 , sudah 7 bulan berselang dari postingan yang terakhir. Sudah lama.aekali tidak menulis di blog ini.

Cerita kehamilan inj tidak terwujud tanpa adanya pernikahan yg berlangsung sederhana di Masjid Jami Bintaro Jaya sek 1 pada tgl 12 oktober 2014. Allah takdirkan aku menikah dengan pemuda jauh asal Sukoharjo dengan proses yang begitu cepat dan mudah-mudahan diliputi barakah. Aamiin.

Entah kapan sebenarnya aku hamil. Yang pasti adalah sabtu, 22 Nopember 2014 aku dan suamiku sempat mengikuti family gathering yg diadakan kantor suamiku. Kami bahkan sempat naik rollercoaster dan wahana rumah hantu. Lalu keesokkan hari nya, karena aku sudah tidak kunjung haid selama 1 bulan (haid terakhir 20 oktober 2014), aku dan suamiku membeli testpack di sebuah apotik dekat rumah dengan dua merek yg berbeda. Masya Allah, Alhamdulillah betapa terkejutnya diriku ketika mengetahui bahwa aku hamil 😊.

Selang satu minggu kemudian, pada tanggal 29 Nopember 2014 kami memeriksakan diri ke rs Muhamadiyah Taman Puring. Tanpa bekal dan rekomendasi Obgyn kami coba untuk memeriksa ke dr Irsan Hanafi, SPOG. Dan benar sekali, nampak garis hitam ada didalam rahimku. Ada dua pernyataan yg mengejutkan diriku. Pertama adalah kehamilanku sudah berusia 5 minggu. Yang kedua, ada bayangan hitam yg menggumpal diseberang rahimku. Dokter bilang itu semacam kista. Antara bahagia dan sedih.

Tapi kami tetap bersyukur bahwa aku diberi kesempatan hamil dan mengandung oleh Allah. Suamiku berupaya utk mencari 'second opinion' pada Obgyn lain mengenai 'kista' ini.
Selang 1 minggu, aku dan suamiku mendatangi RS Tambak dengan ditangani dr. Ony SPOG. Menggunakan USG Transvaginal yang membuatku mengerikan sekali tapi hasilnya memang terlihat lebih jelas. Dr Ony banyak memberikan masukan ini dan itu kepada kami berdua. Dan menurut dr ony itu bukan kista tapi hanya semacam gumpalan darah yang tidak keluar karena hamil. Nantinya seiiring berjalannya waktu akan pudar dan menghilang. Ahh, lega sekali mendengarnya 😊.

Badai Trimester Pertama

Di awal kehamilan, aku mengalami mual dan muntah yg cukup hebat. Bahkan hampir setiap malam aku menangis karena seringnya muntah. Makan apapun selalu muntah dan mual. Berat badan pun turun drastis selama trimester awal kehamilan. Aku yg punya berat badan cukup kurus hanya 47kg diawal kehamilan lalu mengalami kehilangan berat badan selama 3 kg selama trimester awal menjadi 44kg. Sempat dimarahi dokter dengan kurusnya berat badan yang aku alami sehingga dr (waktu itu sudah pindah dr dari dr Irsan ke dr Riris) menambah dosis obat penghilang mual.

Perpindahan Obgyn ini karena jujur sering kali aku merasa risih bila diperiksa USG oleh Obgyn laki-laki. Walaupun sebenarnya Obgyn laki-laki sudah terbiasa melihat rahim. Tapi tetap saja merasa risih sekali. Dan masih adanya Obgyn perempuan membuatku harus segera berpindah karena masih adanya pilihan perempuan. Beda hal nya jika tidak adanya Obgyn perempuan. Sehingga Obgyn laki-laki bisa menjadi 'darurat' dan mau tidak mau menjadi satu-satunya pilihan.

Trimestet pertama sempat membuat kacau pikiranku. Rasanya apa sanggup aku jadi ibu. Sedangkan makanan saja tidak ada yg masuk. Rasa-rasanya belum sanggup jadi ibu. Qadarullah, Allah yg menetapkan sesuatu sudah sesuai dengan kehendakNya. Janin ini begitu sehat sekali. Walaupun ibunya mengalami penurunan kesehatan tapi Alhamdulillah janin ini selalu mengalami peningkatan kesehatan. Maaf ya nak, jika ibu sempat berpikir begitu huhuhu.

Apalagi setelah pertama kali mendengar denyut jantungnya, hatiku meleleh seperti es krim magnum white cokelat (halah). Ibu begitu aku ingin dipanggil olehnya jatuh cinta bahkan lebih jatuh cinta dibanding ke ayahnya aka suamiku, hehehhe. Mendengar denyut jantungnya dan mengetahui bahwa engkau sehat merupakan anugerah dan kebahagiaan terbesarku. Semenjak itu, tiada henti bahkan hingga detik ini aku terus belajar menjadi ibu baru.

Rabbi Hablii Minassholihin. Rabbi Hablii Min ladunka dzuriyyatun Thoyiibah.
Aamiin Allahumma Aamiin.
Sepenuh cinta, untukmu dariku.
Love Lillah