Total Tayangan Halaman

Rabu, 29 Oktober 2014

STANDAR GANDA

Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh...

Judul diatas bukan pilihan untuk jawab soal ya. Tapi kegemesan dengan pemikiran-pemikiran ngaco jaman sekarang. 

Entah darimana awalnya pemikiran ini muncul. Postingan di beberapa media sosial belakangan inilah yang membuatku 'gerah' dan harus segera dilawan.

Masih belum tersampaikan dengan pikiran aku saat ini kalimat "gpp buruk asal bla bla bla". Masih super duper aneh. Lah masa iya, manusia milih yang buruk. Pemikiran ini jelas racun. Racun yang mempengaruhi sosok figur kita nantinya. Kalau aku sih simple aja, kalau pemikiran ini terus dibiarkan. Masih belum kebayang nantinya anak kita bilang "Bu, aku gpp ya tatoan yang penting kan aku kerja" atau "Bu, aku kerja jadi apa aja ya, nanti uangnya kan buat ibu, bangun masjid, sedekah". Hadeh hadeh -_-

Padahal dulu waktu kecil selalu dinasehatin yang baik-baik sama ibu kita. "Nak, jadi anak yang pinter, sholeh, jujur". Bukankah begitu? Kenapa sekarang jadi pemikirannya liar begini.

Bahaya, ini bahaya pemikiran yang jelas harus dipotong. Harus segera dihentikan titik gak pake koma.
Lebih bahaya, akhirnya banyak yang mengekor dengan pemikiran seperti ini.

Kaum liberal emang terkadang suka bikin standar ganda. Standar ganda itu kalau buat orang lain boleh tapi diri sendiri jangan lah. Aneh kan. Dan yang aneh, kita mau aja ngikut pemikiran mereka.

Contoh konkrit nya adalah ketika pertanyaan ini disampaikan balik ke mereka "Yauda, kamu yang punya standar begitu berani gak bawa calon pasanganmu yang tatoan, ngerokok, pakai anting-anting banyak, gak jelas ke ayah dan ibu mu dan bilang "Jangan lihat luarnya dong". Pastilah langsung shock ayah/ibu mu"

Atau malah jangan-jangan nanti kita yang akan dibilang seperti itu "Jangan lihat luarnya dong bu. Walaupun dia tatoan, pakai anting yang penting kerja kan". Nah, kalau yang ini pasti kamu yang pingsan.

Lah masa iya, sekarang aja kita kalau minta ke Allah minta yang terbaik. Tapi kenyataanya kita milih yang terburuk. Ini gak nyambung sih menurutku.

Contoh konkrit standar ganda lainnya adalah di Amerika sana, gak kawin tapi punya anak itu wes biasa. Tapi coba kalau dilakuin sama presiden Obama. Apa kata dunia? Langsung dihujat. 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung nama-nama tertentu. Tulisan ini murni kegerahan seorang Karlina Ekasari terhadap teman-teman di media sosial. Gak nyangka habisnya, karena yang mendukung pemikiran itu kenyataannya sekolahnya tinggi-tinggi, dari keluarga yang baik-baik, terus pada punya kerjaan pula. Kenyataanya dikehidupan sehari-harinya mereka gak mau yang buruk-buruk terjadi dihidup mereka. Geli sendiri jadinya.

Sudahlah, yang agamanya Islam kembalilah ke Islam. Kembalilah ke teladan mulia. Manusia terbaik dimuka bumi ini Rasulullah Shallahu Alaihiwassalam. Akhlaknya baik, Ibadahnya kuat, Pekerja keras, Suami Idaman, Ayah yang baik, Kakek yang baik. Masya Allah. Sebaik-baiknya teladan.

Menurutku juga seorang Muslim itu harus punya pemikiran seperti ini Muslim, Cerdas, Bertauhid, Berakhlak mulia, Pekerja keras, serta kaya raya. Itu baru pemikiran muslim. Setuju kan?

Yess, setuju...
Biidznillah...
Ya Rabbi, jadikan dunia digenggamanku bukan dihatiku...
Agar dunia mungkin aku kuasai tapi hatiku hanya tertuju untukMu...

Aamiin Allahumma Aamiin...

Wassalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh..
Salam hangat,
Karlina Ekasari
(Minta fadillah doa dari teman-teman, agar aku segera jadi calon ibu ^^)


Minggu, 26 Oktober 2014

Menikah itu.....

Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh,

Dear muslimah, kali ini aku mau bercerita sedikit tentang perjalanan hidupku. Tentang moment terindah. Tentang perubahan status. Tentang takdir Allah. Tentang cinta. Cinta yang akan mengantarkanku ke syurga bersama dia, yang Allah kini telah takdirkan menjadi suamiku. Ya, ini tentang pernikahanku.


Pada bulan Mei 2014 tahun ini, aku dipertemukan untuk pertama kali nya dengan laki-laki. Dikenalkan oleh seorang yang sangat terpercaya membuatku akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang terbesar. Aku ingin menikah. Hihihi..

Juni 2014, selang satu bulan aku dilamar oleh dia. Proses yang sangat cepat tapi tidak terburu-turu. Karena memang aku dan dia sama-sama sudah mempersiapkan nikah sejak beberapa tahun yang lalu.

Dan Oktober 2014, tepat di tanggal 12 Oktober 2014 kami pun menikah.

Menikah itu buatku adalah impian. Mungkin ini pendapat yang terlalu umum, apalagi untuk perempuan. Tapi aku ingin wujudkan pernikahanku menjadi impian. Impian yang kelak akan aku bangun bersama suamiku, dan anak-anakku hingga mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah dan warrohmah.

Menikah itu membuat perjanjian terberat dengan Allah. “Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lai (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil penjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu”. (QS. An Nisa: 21). Mitsaqan Ghaliza merupakan perjanjian terberat yang Allah sejajarkan dengan perjanjian Allah dengan Bani Israil dan perjanjian Allah dengan para nabi. Masya Allah, luar biasa berat perjanjian ini. Hingga pantaslah jika seorang isteri melakukan dosa, maka suami bertanggung jawab terhadap dosa-dosa isterinya.

Menikah itu siap melahirkan generasi terbaik untuk ummat. Siap mendampingi anak-anak yang akan menjadi investasi dunia dan akhirat.

Menikah itu menjadikan wanita mulia. Mulia karena akhlaknya merawat suami. Mulia karena dengan begitu wanita lebih terjaga, lebih terhormat kemuliannya.

Menikah itu, menikmati perjalanan yang Allah takdirkan untuk kulalui bersamanya. Cinta yang akan kuhadirkan hingga ke syurga. Komitmen yang dipegang oleh dua insan karena Allah.

Menikah itu, bertemu karena Allah, mencintai karena Allah, dan menikah karena Allah.

Ketika ditanya pertanyaan yang menggelitik, "Sudah siap belum menikah?. Jawabku sederhana. Sampai kapanpun manusia tidak akan pernah siap. Hanya manusia punya kesempatan untuk terus belajar. Belajar tentang kehidupan.

Menikahlah untuk menyempurnakan hidupmu. Untuk menyempurnakan separuh agamamu. 

Semoga Allah mudahkan langkah untuk menikah yaa...

Wassalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh
=============================================
Karlina Ekasari


Senin, 06 Oktober 2014

Makan ikan.....

Assalamualaikum Warrohmatullohi Wabarokatuh semuanya...

Akhir-akhir ini jadi suka banget makan ikan. Terutama gulai ikan. Karena kesukaan makan ikan yang semakin membuncah, jadi minta bikinin mama gulai ikan terus deh. Tapi pengen juga ah nyoba gulai ikan sendiri. Nah ini yah resepnya.

Bahan
2 potong kepala ikan kakap ukuran sedang
1 sendok makan air jeruk nipis
7 gelas santan dari 1 buah kelapa
2 batang serai
1½ ruas jari lengkuas, keprek
1 lembar daun kunyit
10 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya
2 asam kandis
Garam

Ulek Halus
9 butir bawang merah
3 siung bawang putih
5 cabai merah besar
1½ ruas jari jahe
1½ ruas jari kunyit

Caranya :
Cuci bersih kepala ikan kakap, lumuri perasan jeruk nipis dan garam.  Diamkan selama 15 menit.
Masukkan bumbu halus ke santan bersama serai, lengkuas, daun kunyit, dan daun jeruk, hingga harum. Masak hingga tercium harum dan santan mendidih.
Masukkan kepala ikan dan asam kandis. Masak di atas api kecil hingga kepala ikan berubah warna dan santan berminyak. Beri garam, aduk rata. Cicipi.
Angkat.

Kelihatannya sih mudah ya, mudah-mudahan sih dalam waktu dekat bisa segera membuatnya..
Hihihi...
Yummy.....

 

Rabu, 17 September 2014

Ayo Hujan-Hujanan…

Ayo Hujan-Hujanan…
Ditulis oleh ustadz Budi Ashari (www.parentingnabawiyah.com)
 
Saya mengajak siapapun. Pasti yang paling senang anak-anak kita. Ayo nak, hujan-hujanan....
Karena ini bukan sekadar sebuah kesenangan bermain dengan rintik dari langit yang memang sangat menyenangkan. Juga bukan sekadar penelitian ilmiah tentang manfaat hujan, yang baru hangat dibahas hari-hari ini.
Hal ‘sepele’ ini perlu dibahas karena anak-anak pasti senang hujan-hujanan. Sementara para orangtua hari ini cenderung berkata: jangan, nanti sakit, nanti masuk angin, nanti demam, nanti pilek, dst...
Apakah itu konsep parenting yang benar?

Dengarkan kisah Anas bin Malik radhiallahu anhu berikut ini:
قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى»
Anas berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?
Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Tuhannya ta’ala.” (HR. Muslim)
An Nawawi menjelaskan hadits ini,
“Maknanya bahwa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkahannya. Hadits ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat kami bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat-, agar terkena hujan.” (Al Minhaj)
Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan. Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata: Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan. Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata: Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana.
Abul Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan,
“Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari obat. Karena Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkahi, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman. Diambil dari hadits: penghormatan terhadap hujan dan tidak boleh merendahkannya.” (Al Mufhim)
Bahkan para ulama; Al Bukhari dalam Shahihnya dan Al Adab Al Mufrod, Muslim dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro. Semuanya menuliskan bab khusus dalam kitab-kitab hadits mereka tentang anjuran hujan-hujanan.
Apa masih ada yang sangsi?
Bahwa hujan-hujanan dianjurkan...
Mengapa kita menuduh hujan yang berkah sebagai sumber malapetaka??
Kita sebagai orangtua tentu bisa mengamati kebugaran anak kita hari itu. Saat hujan turun. Kalau mereka tidak terlalu bugar kita bisa melarangnya. Tetapi kalau mereka sedang sehat dan bugar, mengapa kita larang. Tak usah khawatir. Hujan adalah keberkahan. Adalah kesucian. Hujan adalah pengirim ketenangan. Hujan bahkan penghilang kotornya gangguan syetan.
Selesai hujan-hujanan, silakan disuruh mandi, mengguyur kepalanya, minum madu, habbatus sauda’ dan lainnya. Agar kekhawatiran itu pergi. Dan keberkahan lah yang telah mengguyur kepala dan sekujur badan mereka.
Sudah siap?
Ayo...

Senin, 15 September 2014

Ibu Profesional

Assalamualaykum Warrohmatullohi Wabarokatuh...

Hari ini pertama kali mendaftar menjadi ibu professional di komunitas www.ibuprofesional.com . Daftar pertama kali jadi member disana, walaupun belum menjadi ibu, in syaa Allah semangat itu ada. 

Kenapa saya tertarik menjadi ibu profesional?
Jadi, ditulis dalam tulisan sebelumnya. Saya pernah mengikuti seminar yang mana pengisi acara nya itu ibu Septi PW. Nah, kebetulan beliaupun yang memulai komunitas ibu profesional. Karena semangat ingin menjadi ibu, saya sadar sekali butuh ilmu. Saya sadar sekali harus punya komunitas. Saya sadar sekali harus punya mentor. Oleh karena itu saya sengaja mendaftarkan diri saya untuk bergabung di komunitas ini.

Yang membuat saya juga tertarik dengan komunitas ini adalah ada kuliah online maupun offline menjadi ibu. Keren banget kan. Menurut saya untuk menjadi ibu pun butuh ilmu. Suka sedih kalau yang menganggap remeh tugas mulia ini. Seakan-akan tugas ini, tugas menjadi ibu itu tugas yang sebelah mata. Padahal kan tugasnya seumur hidup tanpa digaji dan dibayar.

Oh iya, di komunitas ibu profesionalpun ada institut nya loh. Institut Ibu Profesional. Ah keren banget ya. Kalau mau lebih jelas dan lengkap, langsung meluncur ya ke portal resminya. Oh iya, disini belajarnya tiap hari rabu jam 9 pagi selama 1 jam. Jadi ibu luangkan waktunya ya. Karena disini kita belajar. Ada kurikulumnya juga loh. hehehe...


My Plan....................................

Rencana saya tentunya berkaitan dengan ibu profesional, in syaa Allah akan diusahakan dalam jangka waktu maksimal 1 tahun dari sekarang. Jadi sekarang masih (calon) ibu bekerja, hihihihi....

Btw, langsung kebayang gini...

Nama    : Karlina Ekasari
Pekerjaan : Ibu Profesional
Perusahaan : Jl... (bla bla bla isi alamat rumah sendiri)
Jabatan : Direktur Utama
 
Ah kece kan kartu namanya, hihihi...

Hayuk siapa yang mau ikutan jadi ibu profesional? Cung....

Barakallah fiikum..
Wassalamualaykum Warrohmatullohi Wabarokatuh

Karlina Ekasari,
(Masih) bekerja dan calon ibu profesional, aamiin Allahumma Aamiin

Selasa, 09 September 2014

Ibu bekerja dari kacamata seorang perempuan yang masih bekerja.....

Assalamualaykum Warrohmatullohi Wabarokatuh,

Dear muslimah, apakabarmu hari ini? Semoga senantiasa dalam lindungan Allah ya..

Akhir-akhir ini banyak sekali postingan di FB tentang ibu bekerja vs ibu rumah tangga... Jadi gini di FB itu ada teman yang full of time menjadi ibu sehingga dia akhirnya memberikan masukan tentang ibu. Nah ada yg masih bekerja, biasanya pasti memberikan postingan tentang kebolehan menjadi ibu bekerja, hehehe...

Menurutku sih gini yah...
Bekerja itu bagi perempuan gak wajib alias mubah alias diperbolehkan. Nah, kacamata itu yang harusnya disamakan dulu yah. Jangan mikir kemana-mana dulu yaa... Apalagi sampai bawa profesi bla, bla, dan bla.
Nah yang namanya gak wajib, jadi jangan ngoyo banget dalam bekerja. Toh kita ini sebegai perempuan itu diciptakan sebagai tulang rusuk kok bukan tulang punggung, eh... hehehe....

Jadi kalau ada yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, aku sih salut banget loh. Karena (ini menurut aku yah) biasanya seorang perempuan kalau udah bekerja tuh pasti susah untuk ninggalin kerjaannya. Coba deh di survei, pasti lebih memilih tetap kerja kan. hehehe

Jadi ibu full time itu sulit banget loh. Udah pasti harus menghilangkan gaji yang biasa dia dapat dari perusahaan demi berkarir dirumah, itu gak gampang. Belum lagi faktor orang tua, yang mengingingkan anak perempuan yang kini sudah menjadi isteri orang itu tetap bekerja. Karena rerata perempuan sekarang memang di didik oleh ayah ibu nya untuk bekerja diluar bukan untuk bekerja dirumah.

Semua orang berhak punya pandangannya terhadap hal ini. Banyak yang memihak dengan ibu bekerja tapi tidak sedikit pula yang akhirnya harus memutar impian mereka diluar untuk berkarir dirumah. Menurutku sih fitrah seorang perempuan tetap jadi isteri dan ibu. Walaupun banyaknya perempuan sekarang dijejali oleh pemikiran feminisme dan liberalisme yang akhirnya membuat perempuan kalau gak kerja tuh jadi ngerasa bodoh banget. Masa lulusan sarjana ini hanya jadi ibu rumah tangga.

Eh tapi lihat ayat ini deh..

Wanita pun diperintah oleh Allah untuk menjaga kehormatan mereka di hadapan laki-laki yang bukan suaminya dengan cara tidak bercampur baur dengan mereka, lebih banyak tinggal di rumah, menjaga pandangan, tidak memakai wangi-wangian saat keluar rumah, tidak merendahkan suara dan lain-lain.

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al Ahzâb [33]: 33)

Kalau ditanya aku sendiri, jujur keinginan aku ingin jadi isteri dan ibu. Karena bagiku, masih banyak cara kok utk menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan rumah terlalu lama. Pekerjaanku sekarang sebagai seorang bankir di Bank Syariah dengan waktu kerja 8 jam, menurutku berat banget. Gak kebayang, kalau nanti aku berangkat kerja anakku masih tidur. Pas pulang kantor, anakku udah tidur. Jadi yang dilihat pertama kali bukan ibu nya. Entah itu neneknya, susternya, atau mungkin tetangga yang dititipkannya. Ah, sedih gak sih kayak gitu.

Lihat beberapa blog yang memberikan pemahaman tentang ibu bekerja, aku langsung mikir itu pasti yang buat masih bekerja. Soalnya dari bahasanya itu loh. Hehehe....
Kalau aku sih menilai gak usah jauh nanti "gak ada dong yang jadi dokter perempuan atau profesi tanpa perempuan". Duh, aku sih mikirin diriku sendiri baru orang lain. Gak usah sampai sejauh itu.
Toh, masih banyak kok perempuan yang bekerja tanpa kita doktrin menjadi ibu rumah tangga pun. hehehe.  

Tapi memang dalam Islam itu gak ada persamaan gender loh. Yang ada perbedaan gender dengan jalur-jalur pahalanya sendiri. Ini aku ambil kutipan dari perentingnabawiyah.com oleh ustadz Budi Ashari.

DR. Adnan Baharits (Pakar pendidikan anak dari Universitas Ummul Quro Mekah) menyampaikan kalimat kesimpulan tentang posisi laki-laki dan perempuan dalam Islam,
Laki-laki berperan mengembangkan kemampuannya di kehidupan luar dan publik. Ia berperan di dunia ekonomi, manajemen, politik, militer dan lainnya.
Adapun wanita berperan mengembangkan kemampuannya di kehidupan dalam yang khusus. Ia berperan dalam mendidik dan menjaga keturunan, menjaga eksistensi wanita.

Tetapi ada wilayah sempit di antara dua kehidupan; luar dan dalam (rumah) yang memerlukan peran keduanya bersama-sama.
Hidup ini tidak bisa dilepaskan dari peran laki-laki dalam mendidik anak-anak dan menjaga keluarga. Sementara kehidupan di luar (rumah) tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan di dunia pendidikan, keperawatan/kesehatan, peran sosial dan lainnya.
Jadi, laki-laki tidak boleh menghabiskan dirinya berperan di dalam (rumah) dan mengabaikan bergabung dalam pengembangan umum. Dan wanita tidak boleh menghabiskan dirinya berperan di luar (rumah) dan mengabaikan kewajibannya berketurunan dan pendidikan.” (Dhowabit Tasyghil An Nisa’ h. 10-11)

Sedikit cerita ya, dulu pernah ikut seminar. Judulnya kece banget tentang Khadijah Masa Kini. Langsung terbayang sosok bunda Khadijah yang sukses. Salah satu pengisi seminar namanya ibu Septi PW, beliau lulusan psikologi universitas terbaik negeri ini dan memilih untuk berkarir dirumah. Anak-anaknya sukses luar biasa. Ah, pokoknya keren deh. Setiap hari main sama anaknya. Belajar di museum, kebun raya, kebun binatang. Kelihatannya seru sekali yah, hehehe... Aku pengen kayak gitu, hhehehe...

Kalaupun seorang perempuan tetap memilih untuk bekerja ya silahkan, asal yang terpenting Orangtua/Suami Ridho. Terus pilih pekerjaan yang memang tidak terlalu banyak ikhtilat atau mengharuskan safar tanpa mahram. Berhijab, pilih pekerjaan yang halal, berkah dan barokah ya, anggap aja hobi yang menghasilkan uang. Jangan stress, jgn pusing. Jangan diforsir. 

Well, masihkah bermimpi besar diluar rumah atau didalam rumah muslimah? :)

Wallahualam bishowab...

Wassalamualaykum Warrohmatullohi Wabarokatuh...

Karlina Ekasari
Perempuan yang masih bekerja dan dulu bercita-cita berkarir lalu akhirnya memutuskan untuk mengubah impian menjadi ibu rumah tangga..


Jumat, 15 Agustus 2014

Fenomena Jilboobs dan menyikapinya





Assalamualaykum Warrohmatullohi Wabarokatuh...

Dear muslimah, kali ini ada fenomena menarik tentang 'Jilboobs'. Sebenarnya, apa itu jilboobs dan bagaimana menyikapinya.

Satu yang pasti adalah, kita tidak boleh berprasangka buruk atau mengeluarkan pernyataan bahwa ia tidak shalihah. Mungkin ini bagian dari hijrah mereka. Harga itu. Hargai setiap proses hijrah seseorang.

Kesalahan dalam proses belajar adalah hal yang harus dimaklumi, bukan? Justru yang tidak boleh kita anggap biasa adalah ketika orang asing dengan mudah mengeluarkan umpatan pada pribadi yang sedang berusaha berbenah menjadi lebih baik.

Ketika kita bisa mengutuk wanita-wanita yang belum menjulurkan penutup kepalanya sampai ke dada, kenapa masyarakat kita tidak bisa menujukan kutukan yang sama ke pelaku yang dengan isengnya mengumpulkan foto-foto mereka? Apakah hanya wanita yang harus berusaha menjaga diri, sementara lelaki bisa dengan enaknya tidak punya kewajiban menjaga mata?

Yang jelas, yang harus kita lakukan ialah kita melihat diri kita sendiri. Sudah benarkah kita dalam berhijab? Sudah benarkah kita dalam menutup aurat? Siapa sajakah yang berhak melihat aurat kita? Sesudah pertanyaan itu terseleseikan barulah kita lanjut ke pertanyaan selanjutnya yaitu Sudahkah kita merangkul mereka yang belum berhijab? Mereka yang belum berhijab dengan benar? Sudahkah kita mengajak mereka, merangkul mereka.

Apa alasanmu berhijab muslimah? Karena Allah kah? Lantas mengaapa kalian enggan mengikuti perintah Allah.
Muslimah, mari kita buka kembali ayat Al Quran. Kita buka kembali surat Al Ahzab ayat 59. 
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang Mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.

Mari kita buka kembali lagi surat An Nur ayat 31.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf
Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan              pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan jangan menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak padanya, dan hendaklan mereka menutupkan kain kudung di dadanya.

Ada dua syarat utama dalam berjilbab dalam Al Quran :
1. Mengulurkan Jilbab
2. Menutup kain kerudung hingga dada

Jadi jika kita ingin menutup aurat secara benar, bukan hanya ikut-ikutan perintah maunis, tentunya kita harus menutup aurat sesuai dengan Al Quran. Karena Al Quran sebaik-baiknya tuntunan manusia.

Kembali ke judulnya. Kita seorang muslimah tentunya harus mendoakan mereka, muslimah yang mungkin baru belajar berhijab. Mereka yang mungkin baru mengenal dan mencintai hijab.

Jadi sebenarnya agak sedih, ketika ada yang melabelkan Jilbab dengan Boobs, sehingga jadi terkesan porno banget. 

Mulailah berhenti mengupload gambar saudara muslimah kita yang kurang baik. Karena kita menghormatinya, kita menghargainya, kita mencintainya seperti kita mencintai diri kita sendiri.

Mulai mengajak orang terdekat kita. Coba tengok rumah kita, sudahkah berhijab semua. Pembantu rumah tangga kita, adik, kakak, saudara lainnya, ada tetangga juga yang harus kita dakwahi. 

Ternyata banyak ya PR kita....

Wassalamualaykum Warrohmatullohi Wabarokatuh
@karlinaesari

===================================

Teman-teman, jika berkenan bisa ikuti Gerai Khadijah. Gerai Khadijah akan bersama-sama muslimah lainnya dalam berhijab yang benar, syar'i in syaa Allah.

* Follow twitter kami di @geraikhadijah ,  

* Add akun Facebook kami di www.facebook.com/akungeraikhadijah 

* Like fanpages Facebook kami di www.facebook.com/geraikhadijah.syiar 

* Ikuti di blog kami www.geraikhadijah.blogspot.com 

* Nantikan website Gerai Khadijah, in syaa Allah sedang dalam proses pembuatan.


# 30% keuntungan dari penjualan produk Gerai Khadijah akan diperuntukkan perwujudan Khadijah Center Pusat Dakwah Muslimah Indonesia. In syaa Allah#


Gerai Khadijah // Syi'ar Syar'i // Ketika ketaatan memenuhi ruang jiwa, maka ridho Illahi akan jadi tujuan utama.
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” - See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2013/12/17/28161/101-alasan-untuk-pakai-jilbab/#sthash.ysoNr5M1.dpuf